Laman

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Oktober 2015

ASAL MULA DESA KARANGTURI (Kecamatan Lasem)



Oleh : Malihah Shifi
(Kelas VIII A SMP Negeri 1 Lasem)

Cerita yang berkembang di masyarakat sering kali sudah dibumbui dengan cerita-cerita tambahan, entah benar dan tidaknya. Bagaimana juga tidak ada seorang pun yang tahu persis kejadian sebenarnya. Kita hanya dapat menerima cerita itu turun-temurun dan cerita yang berkembang di masyarakat. Percaya atau tidak, ini hanyalah sebuah dongeng. Berikut ini salah satu  dongeng asal mula yang berkembang di sekitar masyarakat Lasem, tepatnya di Desa Karangturi Kecamatan Lasem. Simak kisahnya.
Asal mula Desa Karangturi terjadi menurut cerita sejarah tanah Lasem. Diceritakan pada masa itu, tepatnya di sebelah barat sungai Babagan, terdapat gerombolan perampok yang dipimpin oleh seorang perampok terkenal yang bernama Pathak Warak. Karena dihuni gerombolan perampok maka tak ayal lagi di daerah tersebut terkenal tidak aman. Para perampok yang dipimpin oleh Pathak Warak sering mengganggu masyarakat di sekitarnya.
“Ha, ha, ha, ha. Akulah orang terkuat di wilayah barat ini. Semua penduduk takluk kepadaku. Apa yang aku inginkan harus aku dapatkan.” ujar ki Pathak Warak dengan sombongnya.
“Benar ketua! Ketua adalah orang tersakti di wilayah ini. Tak ada yang berani menentang ketua,” kata salah satu dari anggota gerombolan Pathak Warak.
“Bagaimana kalau kita luluh lantahkan wilayah timur? Kita rampas harta benda mereka!” ajak Ki Pathak Warak.
“Setuju, Ketua. Tapi..., “ jawab salah satu dari anggota gerombolan Pathak Warak ragu-ragu.
“Tapi apa! Kau masih meragukan kesaktianku, hah!” ujar Ki Pathak Warak mulai marah.
“Ti.. tidak. Sama sekali tidak, Ketua. Saya Cuma mau mengingatkan bahwa di wilayah timur ada Demang Suto, yang kabarnya juga sakti mandraguna,” jelas anak buah Pathak Warak.
“Ha, ha, ha, ha. Jadi itu yang kamu takutkan? Sama sekali aku tidak takut dengan Demang Suto. Aku akan jajal kesaktiannya. Besok kita jajah wilayah timur!” perintah Ki Pathak Warak.
Sementara itu, wilayah di sebelah timur sungai dipimpin oleh Demang Suto yang terkenal  mempunyai kesaktian. Kesaktian dan kemampuannya sudah banyak didengar oleh penduduk baik di wilayah timur atau pun di wilayah barat. Tentu saja gerombolan perampok yang dipimpin oleh Ki Pathak Warak juga telah mendengar kesaktian Demang Suto.
Pada suatu hari, para perampok  yang dipimpin Ki Pathak Warak hendak mewujudkan keinginannya untuk merampok di wilayah timur sekaligus ingin menjajal kesaktian Demang Suto. Para penduduk di wilayah timur dan Ki Demang Suto kaget melihat kedatangan gerombolan Pathak Warak yang terkenal sadis dan bengis itu. Ki Pathak Warak melancarkan aksinya berusaha mengganggu desa di wilayah timur. Melihat kejadian itu Demang Suto tidak tinggal diam. Ia berusaha sekuat tenaga melawan dan membasmi gerombolan perampok yang sangat meresahkan masyarakat.
“Hai, Pathak Warak! Hentikan kekejamanmu memusuhi orang-orang yang tidak berdosa. Kalian hanya berani dengan orang-orang yang tidak berdaya. Bukan mereka musuh kalian. Akulah musuh kalian. Jika kalian berani, lawanlah aku!” kata Demang Suto dengan berani.
“Ha, ha, ha, ha. Jangan sombong, Demang Suto. Kau tidak akan berdaya melawan aku dan anak buahku. Aku ratakan wilayah timur ini. Tunjukkan dan keluarkan kesaktianmu!” balas pathak warak tidak kalah sombongnya.
Peperangan pun tak dapat dielakkan lagi. Karena Demang Suto merupakan salah satu orang yang mempunyai kesaktian yang luar biasa, Demang Suto dan bawahannya pun memenangkan peperangan itu. Gerombolan Ki Pathak Warak  dapat dipukul mundur. Akhirnya, daerah di wilayah timur sungai menjadi daerah yang aman dan rakyatnya hidup tenang dan tentram.
”Terima kasih, Ki Demang. Ki Demang Suto telah berhasil memukul mundur dan membuat gerombolan perampok tak berani lagi mengganggu wilayah kita. Ki Demang telah membuat daerah ini menjadi aman dan nyaman kembali,” Kata salah seorang warganya.
“Sudah sepantasnya, saya mempertahankan dan mempertaruhkan jiwa raga demi wilayah ini. Dan sudah sewajarnya orang-orang yang menindas harus kita singkirkan meskipun nyawa taruhannya,” balas demang suto.
Pada waktu itu, daerah tersebut belum mempunyai nama. Karena desa tersebut belum mempunyai nama maka Demang Suto memerintahkan kepada bawahannya supaya setiap pekarangan rumah disuruh menanam pohon turi.
“Wahai anak buahku. Perintahkan kepada setiap rumah yang ada di daerah ini untuk menanam pohon turi,” Kata Demang Suto.
“Untuk apa, Ki Demang?” tanya anak buah Demang Suto.
“Sudahlah. Turuti perintahku.Ssuruhlah penduduk di daerah ini menanam pohon turi di setiap pekarangan rumahnya,” tegas demang suto.
“Baik, Ki Demang. Aku akan laksanakan perintah Ki Demang,” jawab anak buahnya.
Masyarakat di wilayah timur segera bergerak untuk melaksanakan perintah Ki Demang Suto untuk menanam pohon Turi. Dalam waktu yang cukup singkat, di wilayah teresbut di setiap pekarangan rumah terdapat pohon turi.
“Jika ada keramaian zaman, desa ini akan aku namakan desa Karang Turi. Nama Karang Turi diambil dari kata pekarangan yang ditanami pohon turi,”     kata Demang Suto menjelaskan. Karangturi berasal dari kata “pekarangan  yang ditanami pohon Turi.” Desa Karangturi adalah salah satu desa yang cukup ramai dan merupakan bagian dari kecamatan Lasem Kabupaten Rembang.
Hikmah yang bisa diambil dari cerita rakyat di atas adalah segala kejahatan akan kalah dengan kebenaran. Kesombongan hanya akan membawa kekalahan. Bahwa di atas langit masih ada langit. Berlakulah dengan jujur dan apa adanya. Berjalanlah di jalan yang lurus, jalan yang dirahmati Allah SWT.

ASAL MULA PEDUKUHAN MAMBONG (Desa Tasiksono, Lasem)



Oleh : Bagas Indrayatna
(Kelas VIII A SMP Negeri 1 Lasem)


            Padukuhan Mambong adalah salah satu pedukuhan kecil yang berada di wilayah  Desa Tasiksono Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Pedukuhan ini memiliki sejarah yang sangat panjang. Di pedukuhan ini pula terdapat sumur yang mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah asal mula pedukuhan Mambong.
            Awal mulanya, ada seorang pemuka agama/penyebar agam Islam di daerah Kecamatan Lasem yang bernama Sunan Bonang. Sunan Bonang merupakan salah satu wali atau sunan dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sembilan wali ini biasa disebut Walisongo. Beliau merupakan tokoh agama yang sangat terkemuka dan sangat cerdik dalam menyiarkan agama Islam di daerah Tuban, Lasem, dan sekitarnya.
            Sunan Bonang bertempat tinggal di daerah tepi pantai Regol atau pada saat ini disebut pantai Binangun. Sunan Bonang memiliki kegemaran suka berjalan-jalan di daerah sekitar tempat tinggalnya. Beliau berjalan-jalan sambil menyiarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Beliau juga sering menebang hutan untuk membuat permukiman atau membuka hutan untuk pertanian. Karena hidupnya di daerah pantai, beliau pun sering berinteraksi dengan banyak saudagar yang sedang berlabuh di pantai Regol dekat tempat tinggalnya.
            Awal mula sejarah terjadinya padukuhan Mambong ini tidak sengaja dilakukan karena peristiwa itu tidak disangka oleh Sunan Bonang maupun tokoh dalam sejarah ini.
            Alkisah, Sunan Bonang yang suka berjalan-jalan sambil menyiarkan agama Islam itu, melakukan perjalanan ke arah barat pantai Regol. Pada saat itu terjadi musim kemarau yang panjang. Udara di daerah sekitar itu pun sangat panas. Udara panas itu membuat lelah perjalanan Sunan Bonang ketempat tujuannya. Keringat dari kening mulai menetesi wajah beliau, disertai dengan rasa dahaga yang amat sangat.
            “Udara di sekitar sini panas sekali. Sampai-sampai membuatku kehausan dan kelelahan,” ujar Sunan Bonang.
            Walaupun sudah mencari kemana-mana tetapi tidak menemukan sumber air juga. Namun, setelah Sunan Bonang hampir putus asa terlihat dari kejauhan ada sebuah sumur dan tempat yang sangat sejuk. Di sana terdapat seorang yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Sang Sunan menghampiri sumur tersebut perlahan-lahan karena kelelahan sambil mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Sunan Bonang menghampiri sumur itu dengan penuh semangat dan pengharapan.
            Akhirnya, beliau mendekati sumur itu dan meminta sedikit air sumur untuk diminumnya dan digunakan untuk cuci muka.
            ”Berilah aku sedikit air, kisanak. Kasihanilah aku. Aku kelelahan dan ingin minum,” ujar Sunan Bonang penuh harap.
            ”Ya, kau boleh mengambil air dari sumur ini akan tetapi setelah kamu minum, aku minta ciumanmu.” jawab orang itu. (cium dalam bahasa Jawa ambung), kata orang tersebut. Sunan Bonang kegirangan mendengar jawaban orang tersebut.
            Sunan Bonang dengan cekatan menimba air dari sumur itu, lalu meminumnya dan membasuh wajahnya dengan air itu.
            ”Terimakasih, kisanak. Kisanak  telah memberiku air,” ujar Sunan Bonang berterima kasih. Orang itu pun menagih janjinya.
            Dalam hati orang itu bertanya dan heran, air sumur yang digunakan untuk minum dan membasuh muka Sunan Bonang kelihatan jernih sekali dan sepertinya terasa tawar. Padahal selama ini air sumur itu berasa agak asin. Orang itu pun berusaha mengingatkan janji Sunan Bonang kepada dirinya. Meskipun ia belum kenal dengan Sunan bonang, orang itu yakin bahwa orang yang dihadapannya merupakan orang sholeh dan mempunyai kelebihan yang luar biasa.
            ” Tadi aku bersedia memberi air untukmu. Namun, kau juga sudah berjanji untuk menciumku.” Ujar orang itu.
            Sunan Bonang ingat dengan janjinya. Sunan Bonang pun harus menepati janjinya itu. Beliau pun langsung mencium orang itu. Setelah mencium orang itu,  Sunan Bonang lalu berkata,
            ”Aku ucapkan terima kasih, kisanak. Aku akan menepati janjiku sebelum aku pergi dari sini. Namun, aku punya satu permintaan. Setelah aku menciummu, izinkan aku untuk memberikan nama daerah ini MAMBONG.” ujar Sunan Bonang.
            “Baiklah, aku penuhi permintaanmu untuk menamakan daerah ini Mambong,” jawab lelaki itu.
            Sepeninggalnya Sunan Bonang, lelaki itu menimba air sumur itu dan meminum air itu. Alangkah terkejutnya setelah dirasakan air sumur itu tidak berasa alias tawar dan airnya sangat jernih. Padahal sumur di daerah itu rata-rata berasa asin.
            Yakinlah orang itu bahwa Sunan Bonang memang yang tadi bertemu dan meminta air kepadanya, bukanlah orang biasa.
`           “Pastilah orang ini orang pilihan, dan mempunyai kemampuan yang luar biasa,” gumam orang itu.
            Orang itu pun menceritakan hal ihwal petemuannya dengan Sunan Bonang kepada warga di daerah itu. Juga menceritakan tentang keajaiban sumur setelah kedatangan Sunan Bonang. Namun, yang lebih penting lagi Sunan Bonang telah memberikan nama daerah itu Mambong, yang berasal ari kata ‘ambong’. Dan pada saat itulah padukuhan Mambong tercipta dan sampai sekarang nama padukuhan itu selalu digunakan. Sumur yang ada pada peristiwa di atas, mempunyai keajaiban karena, walaupun sumur itu terletak dipinggir pantai namun, rasa airnya sangat tawar dan tidak seperti sumur dipinggir pantai yang biasanya mempunyai rasa asin.
            Sejak saat itu sumur tersebut sangat dihargai keberadaanya. Itulah sekilas sejarah tentang padukuhan Mambong, sebuah padukuhan kecil di Desa Tasiksono Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Cerita ini berkembang di masyarakat dari mulut ke mulut.

Minggu, 10 Februari 2013

Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
For vieny, welcome to your husband’s heart.

*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.

Source:
- http://ceritacinta.net/2007/11/01/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana

Jumat, 08 Februari 2013

Pesan Terakhir

Cerpen : Mega Silfia

Atap yang begitu putih, membuat ku teringat dengan dia, bagaimana aku bisa bertemu dengan dia yang sudah tiada. Rasanya aku tidak bisa bernafas, setiap ku mengingat kebersamaan dengannya.

“nanda, nanda kamu sudah sadar.” ucap ibu tiri ku dengan wajah panik dan bergegas mencari dokter di rumah sakit nanda di rawat.

“nanda, kalo kamu dengar ucapan saya coba anggukan kepala kamu.” sambil melepaskan alat penafasan.

Akupun menganggukan kepala, melihat kaki yang dibalut oleh perban, tak sengaja aku mencuri pembicaraan antara dokter dan ibu tiriku, yang ku dengar kaki kananku patah akan sembuh total selama enam bulan lagi dan menyuruh ku di bawa ke psikolog.

“nah, nanda kamu jangan banyak bergerak dan tidur saja.”

Tanpa mendengar perintah dokterpun aku akan tidur dan melupakan semuanya, ketika aku dan dia bertemu. Saat itu sore yang sedikit cerah memungkinkan ku untuk kabur dari rumah, dengan menggunakan tas ransel besar dan jaket tebal lalu kupluk untuk menutupi kepaku. Ayah ku menikah lagi dengan wanita yang sama-sama di tinggal oleh pasangannya. Ibuku meninggal saat melahirkanku, melihat sosok ibu aku tidak tau, aku kabur dari rumah karna aku tidak butuh ibu, mungkin aku cemburu. Apalagi wanita itu mempunyai anak laki-laki berumur 7 tahun. Membuat ayahku semakin senang. Sepucuk surat ku letakan di kamar yang berisi “aku pergi dan jangan menghawatirkan ku lagi, semoga kalian bahagia, NANDA.”

Saat itu aku ingin semua itu berhasil dan sesuai rencana ku , mereka akan khawatir dan mencariku, entah mengapa pikiran ku saat itu kekanak-kanakan. Aku hanya ingin mereka melihatku. Semua berubah saat aku berhenti di sebuah rel kereta api. Di situ aku berfikir, aku akan kabur kemana? Dan bila tersesat bagaimana?. Jujur aku tidak mempunyai teman di sekolah, ini karna sifat pendiamku. Aku tidak pintar beriteraksi dengan orang lain. Yang ku bisa saat itu hanya duduk dan duduk di kursi tunggu kereta api. Entah mengapa aku mulai merasa curiga saat ada seorang anak laki-laki duduk di sebelahku dengan memakai topi dan tas ransel dia duduk dan melihati ku. Sedikit melirik, aku melihat dia, anak laki-laki yang ku rasa seumur dengan ku. Ku rasa dia bukan orang jahat, itu terlihat dari style dan jam tangan yang dia kenakan , bermerek mahal. Di kursi itu dia mulai mengeluarkan suaranya.

“kamu kabur dari rumah juga ??” Tanya dia sambil tersenyum

“bukan urusan kamu.” Ku jawab dengan nada datar dan dingin.

“oh !”

Tiba-tiba saja dia berdiri dan menarik tanganku, aku yang saat itu duduk terkejut dan berdiri, wajahnya tepat di depan wajahku. Mata yang coklat, wajah yang putih, bibir yang merah dan dari tubuhnya tercium bau yang hangat. Membuatku tidak dapat bergerak, namun aku mengelak. Dengan ransel yang ku pegang aku pergi meninggalkan dia. Di stasiun dia terus mengikuti ku, walau sudah ku peringatkan di tetap tersenyum dan mengikuti ku , akhirnya aku menyerah dan berhenti.

“kenapa sih kamu ngikutin mulu? mau kamu apa sih?” Tanya ku

“kabur bareng.” jawabnya sambil tersenyum ringan.

Dengan suara kereta yang sangat bising, suaranya sedikit tersamar namun masih terdengar oleh telingaku, aku hanya terdiam dan berfikir, aku dan dia sama-sama kabur, dan apakah aku mempunyai tujuan untuk kabur, mungkin diapun sama, tidak punya tujuan. Aku menyerah dan kita kabur bersama. Dan aku bertanya siapa namanya.

“nama kamu siapa.”

“aku andre.”

“aku nanda.”


***
Selama perjalanan dia tidak berhenti mengoceh, namun tak kudengar, hanya sedikit ku dengar, seperti dia takut dengan monyet, dia mengaku dia pernah di culik oleh monyet karna dia merebut pisang dari monyet tersebut, aku tidak percaya saat itu, karna yang kupikirkan dia pasti inggin melihat ku tertawa, namun aku tidak bisa karna ku tak terbiasa.

“kita bakalan nginep dimana?”

“aku tau tempat bagus untuk nginep.” jawab dia sambil memegang tanganku.

Sempat ku berfikir dia akan membawaku kesebuah tempat penginapan, namun dia membawaku kesebuah taman dan berkata “disana ada kursi kamu tidur di situ aja, aku di atas rumput di selimuti oleh bintang.”

“…….” Aku hanya bisa terdiam, dan mengikuti keinginannya.

Pagi harinya dia bangun dengan bugar. Betapa beratnya bila kita kabur namun tak ada tujuan. Akupun terbangun dari kursi dan tak sengaja menginjak kakinya yang sedang santai sambil menghembuskan nafas.

“aw, kenapa sih?”

“kalo kaburnya kayak gini, mending aku kabur sendiri.”

“15 kilo meter lagi kita sampai di tempat tujuan kok.”

Di perjalanan dia menceritakan tempat tujuannya untuk kabur, yaitu sebuah rumah yang sudah lama tidak di tempati, itu adalah rumahnya namun sudah kosong. Dan akhirnya sampai di tempat tujuan. Rumah yang lumayan besar. Ada sebuah jendela besar di balik rumah tersebut dan kitapun masuk. Entah mengapa saat masuk aku melihat rumah itu seperti bukan rumah yang di tinggalkan oleh penghuninya, sangat bersih. Dia mulai duduk dan melemparkan tasnya lalu membuka topinya. Karna sinar matahari dari kaca, wajahnya terlihat sangat jelas saat itu. Di rumah itu dia melakukan aktifitas sesuai keinginannya, minum, membuat makanan, anehnya dari kulkas ada banyak perlengkapan makanan yang belum basi. Di sebuah meja makan aku bertanya kepadanya.

“rumah ini kaya bukan rumah tanpa penghuni.”

“yah emang, ada penjaga, yaitu setan berambut bule.”

Entah mengapa aku tersenyum saat itu, tapi aku serius ingin tau, akhirnya dia menjawabnya, memang ada penjaga khusus untuk merawat rumah ini, dan dia menyuruh untuk berhenti sementara membersihkan tempat tersebut.

***
Hari-hari ku lewati dengannya, aku lupa bahwa aku punya keluarga dan aku merasa nyaman saat dengannya, sedikit demi sedikit aku bisa terseyum karna banyolannya. Hingga di suatu malam aku memberanikan untuk menanyakan identitasnya. Ternyata dia masih sekolah. Dan satu yang membuatku penasaran. Kenapa dia kabur.

“trus kenapa kamu kabur,kalo aku sih karna ibu tiri ku.” tanyaku sambil melihat bintang.

“karna ingin melihat bintang, matahari, dan semua yang kadang-kadang ku lihat.”

Saat aku mendengarnya entah mengapa dia seperti burung dalam sangkar. Dari matanya aku melihat sebuah penantian.

“jawabanya gak etis.”sambil tersenyum dan menatap wajahnya

“kenapa, apa keluargamu kacau, apa kau tak suka dengan ibu tirimu, apa karma kamu di perlakukan kaya upik abu?”

“gak , hanya aku merasa tak bisa dekat dengan orang yang baru ku kenal.”

“lalu, kenapa dengan ku kamu langsung dekat, cobalah tersenyum untuk seseorang yang sebenarnya kamu saying.”

Dan malam itu mulai membuatku ingin menutupkan mata namun saat mulai sedikit menutupkan mata dia mengucapkan sesuatu

“aku akan pergi jauh.”

Namun aku sudah tertidur dan tidak ku hiraukan. Hingga suatu hari saat itu hujan sangat deras, ku melihat dia memandangi jendela, sambil meminum secangkir teh hangat dengan sweeter yang tebal tercium bau yang hangat di campur bau hujan. Dia pun melihatku yang turun dari tangga dan memberikan sebuah senyuman kepadaku dan aku bisa membalas senyumannya. Namun saat langkahku hampir berada dekat dengannya tiba-tiba saja dia memegang dadanya, dan menjatuhkan cangkir teh, aku pikir dia melakukan sebuah lelucon lagi, namun tidak. Dia mengeluarkan mata dan mengaung kesakitan. Aku yang panik tidak tau harus berbuat apa, saat itu aku mencari telepon genggamnya dan di daftar telepon tertulis jelas HOME. Akupun mulai menelepon dan di angkat oleh ibunya. Suaranya semakin keras, dia mengeluh kesakitan. Karna panik aku menelepon ayahku. Saat itu aku sangat ketakutan, ambulan mulai datang dan membawa andre ke rumah sakit, di dalam ambulan aku melihat ibunya menangis sambil memegang tanganya. Ayahnya terus menerus menenangkan sang ibu, telepon dari ayah berdering, dan aku mengirimkan sebuah pesan singkat bahwa aku akan pergi kerumah sakit. Aku hanya bisa melihatnya dan tidak ingin menangis seolah-olah dia akan pergi selamanya. Sesampainya di rumah sakit, dokter dan suster mulai sibuk membawa andre ke ruang UGD, dengan jaket tipis dan basah aku hanya diam di luar rumah sakit hingga dari kejauhan aku melihat ibu tiriku mengahampiri dan memelukku. Dengan badan yang lemas aku berfikir kenapa bukan ayah yang datang.

***
Perasaan takut kehilangan dirinya mulai datang dalam hati ku, ketika aku datang untuk menjengungnya dan aku mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada ibunya , ada apa sebenarnya dengan andre. Dia pergi dari rumah dan meminta izin untuk mengahabiskan waktunya, beda dari perkataanya, dia bilang dia juga kabur dari rumah. Dan hal yang sangat membuatku syok, dia sakit parah yaitu kanker hati dan hidupnya memang tidak lama lagi. Itu bohongkan. Aku tidak menginginkan kenyataan ini, namun itu memang nyata. Dan dia dalam keadaan koma saat ini. Sehabis pulang sekolah aku berniat untuk kembali melihat kondisinya, di lorong rumah sakit, dari kejauhan terlihat ibu andre menangis keras sekali. Ayahnya hanya memeluk dan menahan tangisannya si balik kaca matanya. Dan mereka masuk ke tempat andre di rawat. Perasaanku tidak enak, aku berlari menuju mereka, dan menerima kenyataan. Andre sudah tiada. Apa artinya ini. Kenapa saatku merasakan kehadiran seorang yang berarti dia pergi dengan cepat. Pikiranku melayang. Yang ku pikirkan, bagamana cara ku menemuinya lagi. Dan aku melangkah sedikit demi sedikit sampai terhenti di depan tangga menuju atap rumah sakit. Langkah ku menuju tangga tak terhenti hingga sampai menuju atap. Langit saat itu cerah. Angin yang kencan mengibaskan pipiku. Seolah-olah mengusap air mataku.

“dimana andre, apa andre ada di langit, di surga, aku ingin menemuinya.”ucapku saat pikiranku melayang.

Aku pun berdiri di ujung atap. Betapa tingginya keberadaanku sekarang. Rasanya aku ingin loncat dan berada di tempat yang lebih tinggi. Tempat andre berada. Dan akupun lompat. Saat tersadar aku merasa mati rasa. Kaki dan tanganku di perban.

***
Pagi itu ayah dan ibu tiriku terus saja mengatakan bahwa aku akan sembuh. Lalu meminta maaf. Aku hanya bisa diam. Karna sebenarnya aku pun merasa bersalah. Aku merasa sudah melukai perasaan mereka. Pikiranku berkata maaf. Namun mulutku sulit mengucapkannya. Sedikit keberanian dan suara yang belum ku keluarkan. Aku berkata “maaf” dan respon mereka sangat luar biasa. Hari-hari ku sudah mulai membaik. Aku mencoba tersenyum untuk mengobati perasaan kehilangan ku. Pintu terbuka dan ada seorang wanita masuk dari balik pintu itu, dia ibu andre. Langkahnya mulai menghampiriku yang terbaring lemah. Dia menannyakan keadaanku. Dan bagaimana pertemuanku dengan andre, anaknya? Semua ku jawab. Dan dia menceritakan semua tentang andre. Andre yang tegar. Andre yang kuat. Dan andre yang sangat menyayangi keluarganya. Andre adalah kebalikan denganku. Dan ibu andre memberikan ku sebuah surat. Surat dari andre sebelum dia pergi untuk selamanya. Ibu andre pergi saat menyerahkan surat ini.

“dear nanda, mungkin bila kamu membaca surat ini aku sudah tiada. Tuhan sudah memberikan ku banyak kebahagiaan dan kebahagiaan trakhir untuk hidupku adalah bertemu dengan mu, ini adalah salam trakhirku. Jadilah nanda yang tegar, nanda yang selalu tersenyum kepada semua orang. Karma nanda lebih cantik tersenyum dari pada menangis. Saat kau membaca surat ini pasti kau menangis. Maaf sudah membuatmu menangis. Tapi berjanjilah, ini adalah tangisan trakhir nanda. Pesan terakhir andre prawijaya muftian.”

Aku menangis saat membaca surat itu. Aku akan menjadi nanda yang tegar. Nanda yang selalu tersenyum. Dan nanda yang tak akan mengangis lagi saat membaca surat ini. Ini janjiku.


THE END
Source : http://cerpen.gen22.net/2012/06/cerpen-pesan-terakhir.html