Laman

Selasa, 06 Oktober 2015

SANGAT BERBEDA



Karya : Fadhilah Puspasari *)
Selasa, 11 januari, tepat 1 tahun meninggalnya ibuku. Namaku Fazara Naura. Siswa kelas VIII SMP di SMP Negeri 4 Banda  Aceh. Dan sejak 1 tahun itu pula hidupku berubah drastis. Sosok seorang ibu yang selama 12 tahun menemaniku telah hilang dari kehidupanku yang akan terus berlanjut. Tetapi semua kasih sayang dan nasehat ibuku akan selalu aku ingat selamanya. Sejak kepergian ibuku aku  menjadi sangat akrab dengan orang yang selama ini aku panggil ayah. Sebelumnya aku tak pernah suka dengannya karena dia jarang di rumah dan kurang memperhatikanku selama ini. Sekarang aku sangat menyayangi ayahku. Karena aku tahu satu-satunya orang yang yang selalu menemaniku, selalu bersamaku, dan selalu mengertikanku adalah ayahku. Hidupku berlanjut seperti itu sampai sekarang.
Aku memulai pagiku yang cerah seperti biasa, memberi makan kura-kura kesayanganku yang bernama Xiao Ya dan Martin, setelah itu aku lalu mandi, makan, dan berangkat sekolah. Setiap berangkat sekolah, aku selalu teringat pada pesan ibuku untuk belajar sungguh-sungguh dan selalu berdoa.
Tujuanku ke sekolah sangat sederhana, yaitu untuk mencari ridho Allah dan bisa membahagiakan orang tua suatu hari nanti. Di sekolah, aku termasuk siswa yang sangat sederhana. Aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada teman-temanku yang mempunyai barang mewah. Aku sudah sangat bersyukur bisa bersekolah. Dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mencari ilmu ini untuk bermewah-mewahan. Aku hanya ingin mencari ilmu, belajar, dan membahagiakan orang tuaku.
Saat sudah sampai di sekolah, ternyata aku sudah ditunggu oleh sahabat karibku. Namanya Nia, anak yang polos dan selalu menemaniku ketika di sekolah. Dengan teriakan khasnya dia memanggilku. Dan seperti biasa, dia akan bertanya tentang PR dan memintaku untuk mengajarinya. Aku sudah sangat terbiasa dengan hal ini. Aku segera mengajak Nia untuk ke kelas. Di kelas, aku mengajari Nia yang memang sulit untuk memahami materi yang diberikan karena Nia kurang memperhatikan penyampaian materi oleh gurunya. Setelah paham materi yang aku sampaikan, Nia pun segera mengerjakan PR nya. Dan dia sangat berterima kasih kepadaku. Kemudian aku menasihatinya agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Dia berjanji tidak akan mengulanginya.
Satu tahun kemudian, saat kelulusan sekolah diumumkan, ternyata juara 1 adalah Fazara Naura. Mendengar hal itu , aku seketika bersujud syukur atas karunia Tuhan dan memeluk ayahanda tercinta di depan semua orang. Dan ketika diumumkan juara tiga, ternyata itu adalah sahabatku sendiri, aku sangat bersyukur atas hal itu. Karena temanku yang saat kelas VIII kurang serius, ternyata bisa membuktikan bahwa ia bisa. Nia menghampiriku  dan mengucapkan terima kasih atas semua yang telah aku ajarkan kepadanya. Aku pun  juga mengucapkan terima kasih karena selama ini Nia sudah setia menemaniku dan menjadi sahabatku. Tangis pun tak terbendung oleh aku dan Nia. Tak sadar kita mungkin akan berpisah, karena Nia akan ikut pindah orang tuanya ke Thailand dan melanjutkan sekolah di Negara Gajah putih itu.
Sebelum benar-benar berpisah, Nia memberikan sesuatu yang sangat sederhana kepadaku. Tapi sesuatu yang sederaha itu sangat berarti bagiku. Sebuah gelang tanda persahabatan yang di buat Nia selama ini menjadi satu-satunya kenangan yang aku miliki terhadap Nia. Saat memberikan gelang itu Nia berkata,“ Faza sahabatku, kita perlu ingat, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan kita adalah orang yang sedang mengalami itu sekarang. Aku yakin Tuhan akan mempertemukan kita di keadaan yang lebih baik lagi. ”
 Kau bahkan sekarang lebih pandai dariku..  selalu ingat aku ya, balasku.
 Aku masih sama, Za. Nia yang dulu. “ ungkap Nia.
Dengan perasaan berat untuk saling melepaskan kami pun  berpelukan untuk yang terkhir kalinya. Nia mengucapkan selamat tinggal untuk untukku.
Tiga Tahun setelah kepergian Nia, ayahku mengalami musibah kecelakaan yang harus merenggut kakinya. Coobaan ini sangat berat untukku, karena ayahku adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa sekaligus tulang punggung keluargaku. Tapi aku masih bisa tersenyum dan bersyukur karena ayahku masih bisa terselamatkan meskipun harus kehilangan kakinya.
Setelah ayahku sembuh, aku pun memutar otak untuk bisa mencukupi kebutuhan hidupku dan ayahku sementara aku masih harus bersekolah. Sejak pulang sekolah aku hanya bisa terdiam memikirkan hal itu. Mengetahui hal itu, ayahku yang berkursi roda mendekatiku dengan pelan-pelan dan berkata kepadaku, “ Tenanglah nak, tak usah terlalu kau pikirkan, kau fokus saja pada ujian yang akan kamu hadapi, biar ayah yang mencari jalan keluar.”
 Seketika Faza menolah ke arah ayahnya dan berkata, Tapi aku tidak mungkin tega membiarkan ayah bekerja keras sementara aku hanya diam saja.”
Untuk beberapa bulan ini ayah tidak bekerja tetapi ayah akan menjual ruko ayah yang ada di kota ini untuk mencukupi kebutuhan kita selama beberapa waktu ke depan, itu satu-satunya harapan yang kita miliki, jelas ayah.
 “Jangan di jual, Yah, lebih baik kita membuat usaha di sana, aku masih punya uang beasiswa untuk modal kita, usulku.
Percakapan kami terus berlanjut tentang usaha yang akan kami buat. Aku memang sejak SMP sangat tertarik pada bisnis. Tapi aku lebih tertarik pada hal yang berhubungaan dengan teknologi. Akhirnya kami memutuskan untuk berjualan keripik rumput laut hasil buatan kami sendiri.
Keesokan harinya, tepat saat aku libur, kami mulai mempersiapkan semua kebutuhan yang diperlukan untuk berjualan. Setelah semua selesai, kami pun memulai  berjualan. Hari pertama berjualan sangat sepi,  bahkan tidak ada satu pun yang mau membeli dagangan kami.
Hari kedua juga masih sepi, tapi ada beberapa orang yang membeli dagangan kami. Hari ketiga dan selanjutnya dagangan kami makin laris dan di gemari para pembeli, karena di kota ini sangat jarang ada makanan seperti itu. Seiring berjalannya waktu, kami pun memiliki pelanggan tetap yang setiap hari membeli dagangan kami untuk di jual kembali. Dari situlah , produk Rumput Laut kami dikenal masyarakat kota ini. Mengetahui hal itu, aku dan Ayah pun berusaha membuat variasi produk rumput laut kami. Variasi yang kami lakukan ini semakin menambah jumlah pelanggan kami.
Tiga bulan berlalu, usaha ku dan ayah terus berlanjut. Sekarang kami sudah mempunyai 3 cabang di kota ini. Namun, sekarang aku sudah tidak bisa lagi membatu ayah untuk berjualan karena aku harus mempersiapkan UN yang seminggu lagi akan dilaksanakan. Aku berusaha keras untuk belajar maksimal agar ia bisa masuk perguruan tinggi bidang teknologi. Karena itu impianku.
Seminggu kemudian, tepat di hari pertama UN, saat akan berangkat sekolah aku meminta restu ayah dan meminta maaf kepadanya jika hasil UN nya nanti kurang memuaskan.
Apa pun yang terjadi, ayah tetap bangga padamu nak, kamu selama ini sudah berjuang keras untuk hidupmu dan hidup Ayah. ayah merestuimu.” demikian Ayah  memberi semangat kepadaku.
 Saat UN berlangsung, aku mencoba tenang saat mengerjakan seperti apa yang telah di pesankan ibuku. Soal demi soal aku jawab di selembar kertas penentu masa depanku itu. Tak terasa waktu mengerjakan sudah selesai. Aku pun menyerahkan jawabaku kepada pengawas dan berharap tidak ada kesalahan fatal yang aku lakukan.
Hari demi hari, UN pun berlanjut seperti itu. Dan hari ini adalah hari diumumkannnya hasil perjuanganku dan teman-temanku. Semua wali murid kelas XII menghadiri saat mendebarkan itu. Aku berharap-harap cemas sambil berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik. Ayahku mencoba membuatnya lebih tenang dengan memegang pundakku  sambil berkata, “Apa pun hasilnya, ayah tidak akan kecewa dan tetap bangga padamu, Nak. Mendengar hal itu aku hanya bisa tersenyum seraya memegang tangan ayahku.
Dan, akhirnya diumumkanlah hasilnya, ternyata Aku juara II . Aku sedikit kecewa mendengar hal itu tetapi aku tetap bersyukur dan tetap mengingat tujuanku bahwa aku ke sekolah untuk mencari ilmu, bukan untuk mendapatkan peringkat I.
Selanjutnya, Juara 3 besar naik ke podium untuk penyerahan piala dan piagam. Penyerahan pun selesai, Aku langsung berlari menuju ayahku dan menyerahkan piala dan piagam itu kepada ayahku. Ayah mencoba menenangkanku lagi dengan berkata , “Kamu tetap yang terbaik bagi ayah nak.” Dengan mata penuh air mata aku memandang ayah dan memeluknya. Peristiwa yang sangat bermakna dalam hidupku.
Kelulusan telah usai, artinya aku harus melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Seperti impianku, aku ingin masuk ke perguruan tinggi bidang teknologi. Aku pun memutuskan untuk masuk ke Institut Teknologi Bandung ( ITB ). Itu berarti aku harus meninggalkan ayahku untuk mengejar cita-citaku. Namun, aku melakukan ini juga untuk membanggakannya.
Aku kuliah dengan beasiswa yang kuterima. Untuk hidup di Bandung, aku menggunakan biaya dari usaha yang ku bangun bersama ayahku.  Yang sekarang sudah memiliki 20 cabang di kota tempat asalku. Aku sangat bahagia dengan keberhasilan itu. Rencananya, aku akan membuka cabang lagi di Bandung . Di kota kembang ini, aku berharap bisa mencapai keberhasilan yang sama dengan di kota asalku.
Dua tahun sudah berlalu, dan usaha rumput lautku baru memiliki 10 cabang di Bandung. Memang sangat berbeda. Di bandung lebih berat persaingannya dengan penjual produk rumput laut lainya. Tapi aku terus berusaha mengembangkannya lagi. Aku masih mempunyai  4 tahun ( 8 semester ) lagi untuk mengembangkan usaha ini di Bandung.
Esok yang tak kuduga aku bertemu dengan seseorang yang sudah tidak asing lagi di mataku. Ya. Orang itu adalah kawan lamaku yang telah kembali dari Thailand karena ayahnya di pindahkan tugas ke Indonesia, tapatnya di kota Bandung. siapa lagi kalau bukan sahabatku, Nia. Dan di sini ia adalah mahasiswi juga di ITB. Pertemuan ini menjadi sangat konyol, saat kami sadar bahwa setiap hari kami berangkat menuju tempat yang sama dan berada pada satu lingkup tempat yang sama tetapi tidak pernah bertemu. Kami mengira, mungkin Tuhan ingin mempertemukan kami dalam keadaan yang konyol ini. Aku dan Nia sangat terheran akan hal itu.
Setelah aku bercerita kepada Nia semuanya tentang kisah hidupku, setelah kepergiannya, ia berniat untuk membantuku mengembangkan bisnis rumput laut yang sudah kugeluti selama dua tahun ini di Bandung. Nia mengusulkan membuat iklan tentang produk rumput laut buatanku ini. Namun, jika sudah berbicara tentang iklan pasti membutuhkan jumlah barang yang sangat banyak untuk dipasarkan ke masyarakat luas. Kurang lebih aku harus menyediakan 72.000 kemasan rumput laut untuk di setor ke pihak pemasaran. 72.000 kemasan bukan hal yang mudah, perlu waktu 1-2 bulan untuk mengerjakan kemasan sebanyak itu bagi pengusaha kecil sepertiku. Tapi aku tetap mencoba secepatnya untuk menyelesaikannya. Dalam waktu satu bulan ternyata 72.000 kemasan itu sudah berhasil kami buat. Tentunya untuk membuat itu perlu di seleksi untuk di pasarkan nantinya. Seleksinya mengenai, kehigienisan tempat pemuatan, dan pembuatnya, tentang sarana-prasarana yang ada di tempat pembuatan, tentang kemasan produk, dan yang paling penting adalah cita rasa produk. Dan Alhamdulillah kami berhasil melalui seleksi itu.
Sekarang adalah waktunya mengirim produk kami ke tempat pengangkutan untuk dipasarkan.
Tak perlu waktu lama, kurang dari seminggu produk kami telah dikenal oleh semua orang di negeri ini. Kini kami memiliki perusahaan sendiri. Dan produk kami rencananya akan di ekspor ke manca Negara juga.
Atas keberhasilan ini aku sangat berterima kasih kepada sahabatku. Dan aku mengangkatnya sebagai wakil direktur di perusahaanku. Produkku terus mengalami perkembangan dan makin dikenal di berbagai belahan dunia.
Tak terasa enam tahun telah berlalu, dan sejak 3 tahun lalu sampai sekarang aku belum mengunjungi ayahku. Hari ini ku putuskan untuk terbang ke Banda Aceh mengunjungi Ayah ku. Saat aku sampai di rumah yang sudah aku tinggalkan selama enam tahun itu, aku tidak menemui siapa pun. Semuanya tampak sepi, seperti tak berpenghuni. Lalu aku memutuskan untuk pergi ke ruko tempat biasa ayah berjualan. Tapi di situ aku hanya menemui pegawai ruko ayah. Aku masih bingung akan keberadaan ayah. Aku putuskan untuk menanyakan hal itu kepada pegawai ruko. Dengan penasaran aku menanyakan, “ Mbak, pemilik toko ini sekarang tinggal dimana ya? “
Pegawai ruko pun menjawab, “ Pemilik toko ini sudah meninggal 2 tahun yang lalu mbak, maaf mbak ini siapa ya? “
“Innalillahiwainnalillahi roji’un.. Saya Fazara Mbak, anaknya pemilik ruko ini, jawabku sedih.
Oh, mbak Faza, ya, Bapak sering sakit-sakitan mbak sejak tiga tahun lalu. Saat sebelum meninggal bapak berpesan agar tidak usah member tahu mbak tentang kematiannya. Bapak takut kalau mbak terlalu memikirkan Bapak dan mengabaikan cita-cita mbak.” jelas pegawai ruko.
Mendengar hal itu seketika tak terbendung air mataku ini. Terasa sangat menyakitkan bagi seorang anak sampai tak tahu bahwa orangtuanya telah meninggal. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini aku rindukan telah meninggalkanku selama-lamanya. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku sekarang sebatangkara. Tanpa orang tua, tanpa saudara. Kini hanya sahabat satu-satunya orang yang yang masih aku miliki.
Aku putuskan untuk tinggal di rumahku selama beberapa hari. Di rumah ini masih sangat terasa kasih sayang ayang yang selama ini aku terima. Ayah, seberapa jauh pun engkau pergi, kau akan selalu terasa dekat bagiku. Kasih sayangmu selama ini akan tak akan pernah terganti dan terlupakan. Semoga kau tenang di Sisi-Nya. Doaku selalu untukmu ayahku. Aku pasti akan merindukanmu.
Keesokan harinya kuputuskan untuk berziarah ke makam ayahku. Lagi-lagi air mata penyesalan menetes di pipiku. Entah kenapa rasanya aku adalah anak yang paling durhaka karena sampai tidak tahu kalau ayahnya sudah meninggal hanya karena sibuk oleh usaha dan cita-citaku. Maafkan aku, ayah.
Dua hari kemudian aku kembali ke Bandung untuk mengelola bisnisku. Perusahaanku semakin berkembang pesat dan semakin maju.
Dua tahun kemudian aku bertemu dengan seorang lelaki yang sejak SMA aku kagumi. Raza namanya. Dia datang ke perusahaanku untuk menawarkan kerjasama dengan perusahaannya. Aku pun menyetujui hal itu.
Tak disangka, hubungan yang awalnya kerjasama lama kelamaan terikat oleh kasih sayang. Rasanya aku seperti melayang, karena orang yang aku kagumi selama 9 tahun belakangan ini mulai mecintaiku. Hubungan kami pun semakin serius.
Pada 4 Agustus Raza memberikan sesuatu yang amat berharga. Ia melamarku dengan kejutan yang sangat tak kusangaka. Ternyata sejak SMA dia sudah menyukaiku. Dia memberikan kejutan dengan menampilkan foto-fotoku saat SMA yang ia ambil secara diam-diam tanpa sepengetahuanku. Perasaanku bercampur aduk saat itu, bahagia, malu, terkejut, tak percaya, semuanya menjadi satu saat ia berkata , “Fa, Will You Marry Me?”. Jantungku semakin berdegup kencang saat semua orang yang ada disekitarku berteriak, “Terima..!!“ 
Akhirnya aku jawab, “Sorry ya, Za,”
Reza bertanya,“Why?“
Aku memang sengaja menjawab sorry , karena selanjutnya aku akan menjawab, “Sorry, I Will Marry With You, Za.”
Kisah ini sangat rumit, tak terduga. Tapi aku sangat bahagia. Bahagia. Bahagia. Oh, Thanks God.
Aku dan Raza menikah pada 4 Desember.  Dan sejak itu hidupku menjadi penuh warna lagi, hidup bersama orang-orang yang selalu menyayangiku apa adanya, mencintaiku dengan tulus.
Dan itulah kisah hidupku, kisah tentang seorang anak yatim piatu yang mencoba berhasil dengan berusaha. Kisah seorang anak yang sangat keterlaluan, karna tak tahu bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Walaupun Kisah ini tidak sesuai dengan cita-citaku yaitu untuk menjadi seorang ahli teknologi, tapi aku sangat bersyukur karna hidupku masih terus berjalan dengan menjadi seorang pengusaha.
Nyatanya, aku memang bukan seorang ahli teknologi seperti apa yang aku cita-citakan tetapi kini aku adalah seorang pengusaha sukses. Aku berhasil dalam bidang lain. Dan aku bangga. Aku tak harus menjadi seorang ahli teknologi untuk bisa sukses, bila ‘PENGUSAHA’ bisa membawaku dalam kata ‘SUKSES’ .
Jangan selalu memastikan suatu hal akan menjadi takdirmu, pikirkanlah hal terburuk yang tidak sesuai dengan rencanamu. Belajarlah untuk menerimanya, dan bangkit untuk melakukan hal lain yang bisa memperbaiki takdirmu dengan berusaha. Selalu berdoa, dan percaya bahwa semua ini adalah takdir yang diberikan Tuhan.
---------------------------------------------Selesai---------------------------------------------
*) Siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah

ASAL MULA DESA KARANGTURI (Kecamatan Lasem)



Oleh : Malihah Shifi
(Kelas VIII A SMP Negeri 1 Lasem)

Cerita yang berkembang di masyarakat sering kali sudah dibumbui dengan cerita-cerita tambahan, entah benar dan tidaknya. Bagaimana juga tidak ada seorang pun yang tahu persis kejadian sebenarnya. Kita hanya dapat menerima cerita itu turun-temurun dan cerita yang berkembang di masyarakat. Percaya atau tidak, ini hanyalah sebuah dongeng. Berikut ini salah satu  dongeng asal mula yang berkembang di sekitar masyarakat Lasem, tepatnya di Desa Karangturi Kecamatan Lasem. Simak kisahnya.
Asal mula Desa Karangturi terjadi menurut cerita sejarah tanah Lasem. Diceritakan pada masa itu, tepatnya di sebelah barat sungai Babagan, terdapat gerombolan perampok yang dipimpin oleh seorang perampok terkenal yang bernama Pathak Warak. Karena dihuni gerombolan perampok maka tak ayal lagi di daerah tersebut terkenal tidak aman. Para perampok yang dipimpin oleh Pathak Warak sering mengganggu masyarakat di sekitarnya.
“Ha, ha, ha, ha. Akulah orang terkuat di wilayah barat ini. Semua penduduk takluk kepadaku. Apa yang aku inginkan harus aku dapatkan.” ujar ki Pathak Warak dengan sombongnya.
“Benar ketua! Ketua adalah orang tersakti di wilayah ini. Tak ada yang berani menentang ketua,” kata salah satu dari anggota gerombolan Pathak Warak.
“Bagaimana kalau kita luluh lantahkan wilayah timur? Kita rampas harta benda mereka!” ajak Ki Pathak Warak.
“Setuju, Ketua. Tapi..., “ jawab salah satu dari anggota gerombolan Pathak Warak ragu-ragu.
“Tapi apa! Kau masih meragukan kesaktianku, hah!” ujar Ki Pathak Warak mulai marah.
“Ti.. tidak. Sama sekali tidak, Ketua. Saya Cuma mau mengingatkan bahwa di wilayah timur ada Demang Suto, yang kabarnya juga sakti mandraguna,” jelas anak buah Pathak Warak.
“Ha, ha, ha, ha. Jadi itu yang kamu takutkan? Sama sekali aku tidak takut dengan Demang Suto. Aku akan jajal kesaktiannya. Besok kita jajah wilayah timur!” perintah Ki Pathak Warak.
Sementara itu, wilayah di sebelah timur sungai dipimpin oleh Demang Suto yang terkenal  mempunyai kesaktian. Kesaktian dan kemampuannya sudah banyak didengar oleh penduduk baik di wilayah timur atau pun di wilayah barat. Tentu saja gerombolan perampok yang dipimpin oleh Ki Pathak Warak juga telah mendengar kesaktian Demang Suto.
Pada suatu hari, para perampok  yang dipimpin Ki Pathak Warak hendak mewujudkan keinginannya untuk merampok di wilayah timur sekaligus ingin menjajal kesaktian Demang Suto. Para penduduk di wilayah timur dan Ki Demang Suto kaget melihat kedatangan gerombolan Pathak Warak yang terkenal sadis dan bengis itu. Ki Pathak Warak melancarkan aksinya berusaha mengganggu desa di wilayah timur. Melihat kejadian itu Demang Suto tidak tinggal diam. Ia berusaha sekuat tenaga melawan dan membasmi gerombolan perampok yang sangat meresahkan masyarakat.
“Hai, Pathak Warak! Hentikan kekejamanmu memusuhi orang-orang yang tidak berdosa. Kalian hanya berani dengan orang-orang yang tidak berdaya. Bukan mereka musuh kalian. Akulah musuh kalian. Jika kalian berani, lawanlah aku!” kata Demang Suto dengan berani.
“Ha, ha, ha, ha. Jangan sombong, Demang Suto. Kau tidak akan berdaya melawan aku dan anak buahku. Aku ratakan wilayah timur ini. Tunjukkan dan keluarkan kesaktianmu!” balas pathak warak tidak kalah sombongnya.
Peperangan pun tak dapat dielakkan lagi. Karena Demang Suto merupakan salah satu orang yang mempunyai kesaktian yang luar biasa, Demang Suto dan bawahannya pun memenangkan peperangan itu. Gerombolan Ki Pathak Warak  dapat dipukul mundur. Akhirnya, daerah di wilayah timur sungai menjadi daerah yang aman dan rakyatnya hidup tenang dan tentram.
”Terima kasih, Ki Demang. Ki Demang Suto telah berhasil memukul mundur dan membuat gerombolan perampok tak berani lagi mengganggu wilayah kita. Ki Demang telah membuat daerah ini menjadi aman dan nyaman kembali,” Kata salah seorang warganya.
“Sudah sepantasnya, saya mempertahankan dan mempertaruhkan jiwa raga demi wilayah ini. Dan sudah sewajarnya orang-orang yang menindas harus kita singkirkan meskipun nyawa taruhannya,” balas demang suto.
Pada waktu itu, daerah tersebut belum mempunyai nama. Karena desa tersebut belum mempunyai nama maka Demang Suto memerintahkan kepada bawahannya supaya setiap pekarangan rumah disuruh menanam pohon turi.
“Wahai anak buahku. Perintahkan kepada setiap rumah yang ada di daerah ini untuk menanam pohon turi,” Kata Demang Suto.
Untuk apa, Ki Demang?” tanya anak buah Demang Suto.
Sudahlah. Turuti perintahku.Ssuruhlah penduduk di daerah ini menanam pohon turi di setiap pekarangan rumahnya,” tegas demang suto.
“Baik, Ki Demang. Aku akan laksanakan perintah Ki Demang,” jawab anak buahnya.
Masyarakat di wilayah timur segera bergerak untuk melaksanakan perintah Ki Demang Suto untuk menanam pohon Turi. Dalam waktu yang cukup singkat, di wilayah teresbut di setiap pekarangan rumah terdapat pohon turi.
Jika ada keramaian zaman, desa ini akan aku namakan desa Karang Turi. Nama Karang Turi diambil dari kata pekarangan yang ditanami pohon turi,     kata Demang Suto menjelaskan. Karangturi berasal dari kata “pekarangan  yang ditanami pohon Turi.” Desa Karangturi adalah salah satu desa yang cukup ramai dan merupakan bagian dari kecamatan Lasem Kabupaten Rembang.
Hikmah yang bisa diambil dari cerita rakyat di atas adalah segala kejahatan akan kalah dengan kebenaran. Kesombongan hanya akan membawa kekalahan. Bahwa di atas langit masih ada langit. Berlakulah dengan jujur dan apa adanya. Berjalanlah di jalan yang lurus, jalan yang dirahmati Allah SWT.

ASAL MULA PEDUKUHAN MAMBONG (Desa Tasiksono, Lasem)



Oleh : Bagas Indrayatna
(Kelas VIII A SMP Negeri 1 Lasem)


            Padukuhan Mambong adalah salah satu pedukuhan kecil yang berada di wilayah  Desa Tasiksono Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Pedukuhan ini memiliki sejarah yang sangat panjang. Di pedukuhan ini pula terdapat sumur yang mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah asal mula pedukuhan Mambong.
            Awal mulanya, ada seorang pemuka agama/penyebar agam Islam di daerah Kecamatan Lasem yang bernama Sunan Bonang. Sunan Bonang merupakan salah satu wali atau sunan dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sembilan wali ini biasa disebut Walisongo. Beliau merupakan tokoh agama yang sangat terkemuka dan sangat cerdik dalam menyiarkan agama Islam di daerah Tuban, Lasem, dan sekitarnya.
            Sunan Bonang bertempat tinggal di daerah tepi pantai Regol atau pada saat ini disebut pantai Binangun. Sunan Bonang memiliki kegemaran suka berjalan-jalan di daerah sekitar tempat tinggalnya. Beliau berjalan-jalan sambil menyiarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Beliau juga sering menebang hutan untuk membuat permukiman atau membuka hutan untuk pertanian. Karena hidupnya di daerah pantai, beliau pun sering berinteraksi dengan banyak saudagar yang sedang berlabuh di pantai Regol dekat tempat tinggalnya.
            Awal mula sejarah terjadinya padukuhan Mambong ini tidak sengaja dilakukan karena peristiwa itu tidak disangka oleh Sunan Bonang maupun tokoh dalam sejarah ini.
            Alkisah, Sunan Bonang yang suka berjalan-jalan sambil menyiarkan agama Islam itu, melakukan perjalanan ke arah barat pantai Regol. Pada saat itu terjadi musim kemarau yang panjang. Udara di daerah sekitar itu pun sangat panas. Udara panas itu membuat lelah perjalanan Sunan Bonang ketempat tujuannya. Keringat dari kening mulai menetesi wajah beliau, disertai dengan rasa dahaga yang amat sangat.
            “Udara di sekitar sini panas sekali. Sampai-sampai membuatku kehausan dan kelelahan,” ujar Sunan Bonang.
            Walaupun sudah mencari kemana-mana tetapi tidak menemukan sumber air juga. Namun, setelah Sunan Bonang hampir putus asa terlihat dari kejauhan ada sebuah sumur dan tempat yang sangat sejuk. Di sana terdapat seorang yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Sang Sunan menghampiri sumur tersebut perlahan-lahan karena kelelahan sambil mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Sunan Bonang menghampiri sumur itu dengan penuh semangat dan pengharapan.
            Akhirnya, beliau mendekati sumur itu dan meminta sedikit air sumur untuk diminumnya dan digunakan untuk cuci muka.
            ”Berilah aku sedikit air, kisanak. Kasihanilah aku. Aku kelelahan dan ingin minum,” ujar Sunan Bonang penuh harap.
            ”Ya, kau boleh mengambil air dari sumur ini akan tetapi setelah kamu minum, aku minta ciumanmu.” jawab orang itu. (cium dalam bahasa Jawa ambung), kata orang tersebut. Sunan Bonang kegirangan mendengar jawaban orang tersebut.
            Sunan Bonang dengan cekatan menimba air dari sumur itu, lalu meminumnya dan membasuh wajahnya dengan air itu.
            ”Terimakasih, kisanak. Kisanak  telah memberiku air,” ujar Sunan Bonang berterima kasih. Orang itu pun menagih janjinya.
            Dalam hati orang itu bertanya dan heran, air sumur yang digunakan untuk minum dan membasuh muka Sunan Bonang kelihatan jernih sekali dan sepertinya terasa tawar. Padahal selama ini air sumur itu berasa agak asin. Orang itu pun berusaha mengingatkan janji Sunan Bonang kepada dirinya. Meskipun ia belum kenal dengan Sunan bonang, orang itu yakin bahwa orang yang dihadapannya merupakan orang sholeh dan mempunyai kelebihan yang luar biasa.
            ” Tadi aku bersedia memberi air untukmu. Namun, kau juga sudah berjanji untuk menciumku.” Ujar orang itu.
            Sunan Bonang ingat dengan janjinya. Sunan Bonang pun harus menepati janjinya itu. Beliau pun langsung mencium orang itu. Setelah mencium orang itu,  Sunan Bonang lalu berkata,
            ”Aku ucapkan terima kasih, kisanak. Aku akan menepati janjiku sebelum aku pergi dari sini. Namun, aku punya satu permintaan. Setelah aku menciummu, izinkan aku untuk memberikan nama daerah ini MAMBONG.” ujar Sunan Bonang.
            “Baiklah, aku penuhi permintaanmu untuk menamakan daerah ini Mambong,” jawab lelaki itu.
            Sepeninggalnya Sunan Bonang, lelaki itu menimba air sumur itu dan meminum air itu. Alangkah terkejutnya setelah dirasakan air sumur itu tidak berasa alias tawar dan airnya sangat jernih. Padahal sumur di daerah itu rata-rata berasa asin.
            Yakinlah orang itu bahwa Sunan Bonang memang yang tadi bertemu dan meminta air kepadanya, bukanlah orang biasa.
`           “Pastilah orang ini orang pilihan, dan mempunyai kemampuan yang luar biasa,” gumam orang itu.
            Orang itu pun menceritakan hal ihwal petemuannya dengan Sunan Bonang kepada warga di daerah itu. Juga menceritakan tentang keajaiban sumur setelah kedatangan Sunan Bonang. Namun, yang lebih penting lagi Sunan Bonang telah memberikan nama daerah itu Mambong, yang berasal ari kata ‘ambong’. Dan pada saat itulah padukuhan Mambong tercipta dan sampai sekarang nama padukuhan itu selalu digunakan. Sumur yang ada pada peristiwa di atas, mempunyai keajaiban karena, walaupun sumur itu terletak dipinggir pantai namun, rasa airnya sangat tawar dan tidak seperti sumur dipinggir pantai yang biasanya mempunyai rasa asin.
            Sejak saat itu sumur tersebut sangat dihargai keberadaanya. Itulah sekilas sejarah tentang padukuhan Mambong, sebuah padukuhan kecil di Desa Tasiksono Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Cerita ini berkembang di masyarakat dari mulut ke mulut.

Kamis, 06 Maret 2014

Kasih Ibu Tak Batas Waktu

Seorang anak bertengkar dengan ibunya & meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar.
Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya”Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?”
“Ya, tetapi aku tidak membawa uang,”jawab anak itu dengan malu-malu.”Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,”jawab si pemilik kedai.
Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang.”Ada apa Nak?”Tanya si pemilik kedai.”Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku.
Pemilik kedai itu berkata”Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi & kau begitu terharu…. Ibumu telah memasak bakmi, nasi, dll sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya.
Anak itu kaget mendengar hal tersebut.”Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?”
Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun,aku bahkan tidak peduli.
Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih & cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam.”
Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya & ia menangis di hadapan ibunya.
Kadang kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering melupakannya begitu saja.
Source : http://iphincow.com/2013/12/22/kasih-ibu-tak-batas-waktu/

Makna Sebuah Pekerjaan

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.
”Om beli bunga Om.”
”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.
”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.
Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”
Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya,si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya. ”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.”
Bercampur antara jengkel dan kasihan sipemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya. “Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil.
Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana. Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung.
”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?”
Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab,
”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”
Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.
Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangkan.

Source : http://iphincow.com/2012/09/12/makna-sebuah-pekerjaan/

Mencari Kebahagiaan

Alkisah, ada seorang pemuda sedang duduk dengan tatapan kosong mengarah ke hamparan air telaga. Dia sudah berkelana mendatangi berbagai tempat, tapi belum ada yang membahagiakan dirinya. Tiba-tiba terdengar suara sengau memecah kesunyian.
“Sedang apa kau di sini, anak muda?” tanya seorang kakek yang tinggal di sekitar situ.
Anak muda itu menoleh sambil berkata. ”Aku lelah, Pak Tua. Aku sudah berjalan sejauh ini demi mencari kebahagiaan, tapi perasaan itu tak kunjung kudapatkan. Entahlah, ke mana lagi aku harus mencari…” keluh si anak muda dengan wajah muram.
“Di depan sana ada sebuah taman. Pergilah ke sana dan tangkaplah seekor kupu-kupu. Setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu,” kata si kakek. Meski merasa ragu, anak muda itu pergi juga ke arah yang ditunjuk. Tiba di sana, dia takjub melihat taman yang indah dengan pohon dan bunga yang bermekaran serta kupu-kupu yang beterbangan di sana.
Dari kejauhan di kakek melihat si pemuda mengendap-endap menuju sasarannya. Hap! Sasaran itu luput. Dikejarnya kupu-kupu ke arah lain. Hap! Lagi-lagi gagal. Dia berlari tak beraturan, menerjang rerumputan, tanaman bunga, semak. Tapi, tak satu pun kupu-kupu berhasil ditangkapnya.
Si kakek mendekat dan menghentikan si pemuda. ”Begitukah caramu mengejar kebahagiaan? Sibuk berlari ke sana kemari, menabrak tak tentu arah, bahkan menerobos tanpa peduli apa yang kamu rusak?”
Si kakek dengan tegas dan melanjutkan, ”Nak, mencari kebahagiaan layaknya menangkap kupu-kupu. Tidak perlu kau tangkap fisik kupu-kupu itu, biarkan dia memenuhi alam semesta ini sesuai fungsinya. Tangkaplah keindahan warna dan geraknya di pikiranmu dan simpan baik-baik di dalam hatimu.
Demikian pula dengan kebahagiaan. Kebahagiaan bukanlah benda yang dapat digenggam dan disimpan di suatu tempat. Ia tidak ke mana-mana, tapi ada dimana-mana. Peliharalah sebaik-baiknya, munculkan setiap saat dengan rasa syukur maka tanpa kau sadari kebahagiaan itu akan sering datang sendiri. Apakah kamu mengerti?”
Si pemuda terpana dan tiba-tiba wajahnya tampak senang. ”Terima kasih pak Tua. Sungguh pelajaran yang sangat berharga. Aku akan pulang dan membawa kebahagiaan ini di hatiku..”
Kakek itu mengangkat tangannya. Tak lama, seekor kupu-kupu hinggap di ujung jari dan mengepakkan sayapnya, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan. Warnanya begitu indah, seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya.
Setiap manusia menginginkan kebahagiaan. Tetapi sering kali mereka begitu sibuk mencarinya, tanpa menyadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya tidak kemana-mana tetapi justru ada di mana-mana. Kebahagiaan bisa hadir di setiap tempat, di semua rasa, dan tentunya setiap hati yang selalu mensyukuri.
 Source : http://iphincow.com/2014/01/01/mencari-kebahagiaan/#more-971